Jumat, 06 April 2012

Mekanisme Kliring, Mekanisme Transfer dan Portofolio Keuangan

NAMA   :  DEDY FIRMANSYAH
KELAS   :  3EA14
NPM      : 13209510



Mekanisme Kliring, Mekanisme Transfer dan Portofolio Keuangan


PENGERTIAN KLIRING
Yang dimaksud dengan Kliring dan SKNBI adalah sebagai berikut :
Kliring adalah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar
peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang
perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.
SKNBI adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring
kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional

1.                  Tn. ALI bertansaksi dengan Tn ATUN
2.                  Tn. ALI memberikan Cek pada Tn ATUN
         Tn. B sebagai nasabah Bank SITI’ melakukan setoran kliring di Bank ‘KARMAN’
1.                  Bank ‘SITI’ mengirimkan Warkat (Nota Debet   ND Keluar) kepada Lembaga Kliring
2.                  Lembaga Kliring akan meneruskan Warkat kepada Bank ‘ABC’ (Nota Debet  ND Masuk)
3.              Setelah proses pengecekan dan cek dinyatakan sah, maka di informasikan kepada Lembaga kliring untuk mendebet rekening Bank ‘ABC’ di BI dan di kredit ke rekening Bank ‘SITI’
4.                  Penyampaikan hasil kliring kepada Bank ‘KARMAN’ dan pihak Bank akan mengkridit rekening Tn ALI.
Setelah proses kliring berjalan, pada sore hari masing-masing bank akan membuat perhitungan kliring untuk mengetahui apakah bank tersebut menang atau kalah kliring.
Bank yang menang kliring adalah bank yang jumlah warkat tagihan warkat kliring
melebihi pembayaran warkat kliringnya.
Bank yang kalah kliring justru sebaiknya, dimana pembayaran warkat kliring lebih besar dari warkat tagihan.

·         ND Keluar akan menambak Rek di Bi (+)
·         ND Masuk akan mengurangi Rek di BI (-)
·         NK keluar akan mengurangi Rek di BI (-)
·         NK masuk akan mebambah Rek di BI (+)

·         (+) (-)
·         > jika (+) makamenangkliring
·         > jika (-) maka kalah kliring

Contoh Mekanisme Kliring :
            Terdapat 2 buah bank umum nasional yaitu SITI BANK dan KARMAN BANK. Keduanya memiliki asset yang sama-sama disimpan disuatu tempat yakni Bank Indonesia. Seluruh asset yang di simpan di BI disebut Rekening Koran (R/K pada BI). BI mencatat R/K SITIBANK dan R/K KARMANBANK pada kolom Liability(kredit). Kedua bank pun memiliki pembukuan yakni R/K pada BI dicatat di sisi Asset dan disisi Liability terdapat tabungan, giro, deposito, dan simpanan masyarakat lainnya.
Sebuah kasus misalnya : SITIBANK memiliki seorang nasabah yang bernama Gino, ia mengirimkan cek sebesar Rp. 5 jt kepada Atunnasabah KARMANBANK. Atun mencairkan cek tersebut di KARMANBANK, lalu KARMANBANK melakukan perubahan pembukuan menjadi R/K pada BI dicatat di kolom debet dan  tabungan Atun Rp. 5 jt dikolom kredit. Begitu pula SITIBANK melakukan perubahan pembukuan pada rekening Gino menjadi Giro Gino pada kolom Debet dan R/K pada BI dikolomKredit. Proses pemindahn giro berupa cek dari bank lain disebut Pinbuk Kredit. Pada BI R/K SITIBANK danR/K KARMANBANK dicatat disisiLiability. Lalu karena KARMANBANK mengirimkan surat ke SITIBANK melalui BI yang disebut Nota Debet Keluar, maka terjadi perubahan jumlahR/K KARMANBANK di BI menjadi bertambah, kemudian SITIBANK menerima surat dari KARMANBANK melalui BI yang menyatakan bahwa sudah terjadi transaksi pencairan cek sebesar Rp. 10 jt dari nasabah Gino kepada Atun nasabah KARMANBANK, surat tersebut adalah Nota Debet Masuk, lalu SITIBANK melakukan perubahan rekening pada BI menjadiberkurang.
Kasus lain misalnya : Atun mengambil tabungan sebesar Rp.10 jt pada KARMANBANK, lalu KARMANBANK melakukanperubahan pembukuan menjadi Tab. Atun pada sisi Debet Rp.10 jt dan R/K pada BI disisi Kredit Rp.10 jt. Lalu KARMANBANK mengirimkan surat yaitu Nota Kredit Keluaryang menyatakan bahwa telah terjadi transaksi pada rekening Atun maka BI melakukan perubahan pembukuan R/K KARMANBANK menjadi R/K KARMANBANK pada sisi Debet dan R/K SITIBANK pada sisi Kreditsebesar Rp.10 jt. Lalu BI mengirimkan Nota Kredit Masuk pada SITIBANK ini menjadi tolakan kliring, lalu SITIBANK melakukan perubahan pembukuan menjadi R/K pada BI pada sisi Debet Tab. Gino pada sisi Kredit sebesar Rp. 10 jt.
Ø  Nota Debet Keluar yaitu warkat yang disetorkan oleh nasbah suatu bank untuk keuntungan rekening nasbah tersebut.
Ø  Nota Kredit Keluar yaitu warkat pembebanan ke rekening nasabah yang menyetorkan untuk keuntungan rekening nasabah bank lain.
•         Warkat kliring yang diterima dari peserta lain, yaitu :
Ø  Nota Debet Masuk yaitu warkat yang diserahkan oleh peserta lain atas beban nasabah bank yang menerima warkat.
Ø  Nota Debet Keluar yaitu warkat yang diserahkan oleh peserta lain untuk keuntungan nasabah bank yang menerima warkat.



MEKANISME TRANFER





Transfer secara umum disebut sebagai amanat yang diberikan nasabah kepada bank untuk melakukan pengiriman uang dari satu cabang ke cabang lain pada bank yang sama atau bank lain, untuk dibayarkan kepada rekannya secara tunai atau melalui rekening. Karena transfer merupakan amanat, maka pihak bank harus melaksanakan segala sesuatu tentang apa dan bagaimana amanat tersebut diberikan. Jika hal tersebut tidak dilaksanakan, sebagai konsekuensinya pihak bank dapat di tuntut oleh pemberi amanat. Akibat yang lebih jauh bank tersebut akan dihindari oleh nasabah atau calon nasabahnya karena jasa yang diberikan tidak baik. Dilain pihak, karena bank melaksanakan amanat, tentunya akan mendapatkan imbalan. Imbalan langsung yang diberikan nasabah berupa pendapatan (nasabah akan rnembayar sejumlah uang tertentu untuk pelaksanaan pengiriman uang tersebut). Sedangkan imbalan tidak langsung berupa kepuasan nasabah. Dengan kepuasan ini diharapkan nasabah yang bersangkutan tetap menjadi pelanggan. Transaksi transfer uang sering juga disebut transaksi pengiriman uang adalah upaya memindahkan sejumlah uang dari satu tempat ketempat lain yang menjadi tujuan. Ada berbagai jenis pelaksanaan pengiriman uang dan sarana yang paling populer adalah pengiriman uang melalui wesel yang diselenggarakan oleh Kantor Pos. Pada umumnya orang cenderung menggunakan sarana ini, karena masyarakat kita belum "bank minded" sebab masih sedikit cabang-cabang bank di daerah. Penyebab lainnya adalah rasa enggan orang untuk datang ke bank, karena pada umumnya kantor bank didirikan dengan megah. Rasa takut atau minder sering membuat orang kurang tanggap terhadap jasa yang diberikan oleh bank kepada masyarakat. Setelah era tahun delapan puluhan, seiring dengan kebijakan pemerintah tentang kemudahan mendirikan bank dan cabang-cabangnya, bisnis perbankan mulai menyentuh semua kalangan

PORTOFOLIO KEUANGAN

 
dana sejumlah Rp 50 juta kalau hanya disimpan dalam deposito. Apalagi kalau dana itu memang tidak dimaksudkan untuk keperluan jangka pendek. Tentunya akan lebih optimal hasilnya jika diinvestasikan di tempat lain yang lebih besar potensi hasilnya. Namun saya tetap merekomendasikan agar sebagian kecil dananya, setidaknya 10% masih disisakan di perbankan.
Emas dan valas memiliki fungsi yang hampir sama dalam investasi. Yaitu sebagai alat untuk menyeimbangkan fluktuasi kurs rupiah dan inflasi. Artinya, penyimpanan dana dalam bentuk emas dan valas dimaksudkan untuk menjaga kestabilan nilainya terhadap mata uang internasional dan inflasi. Walaupun inflasi tinggi dan rupiah jatuh, maka nilai emas dan valas relatif tetap. Untuk itu, porsi penempatan dana pada emas dan valas ini tidak usaha terlalu besar, 10% - 20% saya rasa sudah cukup tinggi.
Untuk unit link, karena ini adalah produk investasi plus asuransi, maka Anda perlu mempertimbangkan juga kebutuhan Anda terhadap asuransi. Sayangnya saya tidak tahu apakah Anda sudah berkeluarga atau belum, dan berapa usia Anda sekarang ini. Unit link bisa menjadi pilihan yang baik kalau keluarga Anda membutuhkan asuransi dan Anda sendiri belum memilikinya. Tapi kalau asuransi tidak prioritas untuk dimiliki, maka reksa dana bisa menjadi alternatif penggantinya. Sebagian dana Anda bisa ditempatkan pada instrumen investasi ini, tapi tentunya disebar juga pada beberapa produk RD. Sedangkan unit link cukup 1 saja.
Jika usia Anda berkisar antara 30 - 40an, maka saya bisa merekomendasikan untuk menempatkan juga dana pada investasi asset tetap seperti tanah atau rumah. Namun jika usia Anda masih dibawah 30, biasanya prioritas aset tetap adalah untuk dipakai sendiri, bukan sebagai investasi.




Minggu, 18 Maret 2012

World Financial flow


PENJELASAN BAGAN DAN DEFINISI  TENTANG  WORLD FINANSIAL FLOW

NAMA  : Dedy firmansyah
NPM     : 13209510
KELAS : 3EA14

Bagan World Financial Flow






Bank
Bank umum adalah melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran

Bank sebagai Penghimpunan Dana Simpanan Masyarakat

Dana yang paling banyak dihimpun oleh bank umum adalah dana simpanan. Di Indonesia dana simpanan terdiri atas giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu. Kemampuan bank umum menghimpun dana jauh lebih besar dibandingkan dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Dana-dana simpanan yang berhasil dihimpun akan disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, utamanya melalui penyaluran kredit.

Mendukung Kelancaran Mekanisme Pembayaran

Fungsi lain dari bank umum yang juga sangat penting adalah mendukung kelancaran mekanisme pembayaran. Hal ini dimungkinkan karena salah satu jasa yang ditawarkan bank umum adalah jasa-jasa yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran.

Ada 2 lapisan masyarakat yang menfaatkan bank dan pasar modal sebagai :

Contoh
Masyarakat (+) : jumlah penghasilan yg melebihi hasil biasanya disebut SURPLUS

Jika capital market menguntungkannya lebih besar dari loan maka masyarakat (+) akan menginvestasikan uangnya.

Jika capital market menguntungkannya lebih kecil dari loan maka masyarakat (+) akan menyimpan uangnya di  Bank.
Masyarakat (-) : jumlah penghasilan yg kurang dari hasil biasanya disebut DEFISIT
Jika suku bunga capital market lebih besar dari loan, maka masyarakat (-) akan mengeluarkan obligasi.

Jika suku bunga capital market lebih kecil dari loan, maka masyarakat (-) akan mencari uangnya dengan meminjam dari Bank.

i1 : Bunga Deposit


i2 : Bunga Kredit


i3 : Capital Market

i4 : Bursa Efek

A(+) jika:

i3 > i2, maka A akan menginvestasikan uangnya

i3 < i2, maka A akan menyimpan uangnya di bank

B(-) jika:

i3 > i2, maka A akan mengeluarkan obligasi

i3 < i2, maka A akan mencari uang di bank


loan rasio antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber.

loan yaitu pinjaman

Bank juga berkerja sama dengan lembaga lembaga keuangan lain seperti asuransi dan leasing untuk memeperkecil resiko

Pengertian leasing

Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati bersama.

contoh nya masyakarakat
yang memebeli kendaraan dan barang elektronik


Pengerian asuransi

asuransi suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.

Contoh Penjelasannya


Jika masyarakat (-) tidak sanggup membayar pinjamannya terhadap Bank, maka Bank sudah menyiapkan strategi, dengan cara mengasuransikan si masyarkat (-) ke asuransi 1, jika asuransi 1 tidak sanggup menanggung hutangnya terhadap bank, maka akan kembali meminta ke perusahaan asuransi 2, yang di sebut reasuransi, dan jika asuransi 2 juga masih tidak sanggup menanggung sebagian hutang asuransi 1, maka asuransi 2 akan meminta bantuan terhadap perusahaan asuransi 3, fase ini disebut dengan retrocessi.


Penjelasan World Financial flow

Masalah Stabilitas sistem keuangan merupakan salah satu indikator penting dalam perkembangan ekonomi nasional yang mengacu pada kestabilan institusi keuangan itu sendiri dan stabilitas pasar yang tegabung dalam sistem keuangan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar peranan lemabaga keuangan dalam mejalankan perekonomian suatu negara pada sektor keuangan. Selain kestabilan sistem keuangan perlu juga diketahui kestabilan sistem moneter dan juga sistem lembaga keuangan dan perbankan yang merupakan aspek-aspek yang saling terkait dengan sistem keuangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujuan akhir yang sama, yaitu mendapatkan laba yang maksimal dan berkembang dan majunya perusahaan. Sehingga perkembangan perusahaan meningkat, dengan dinamika perputaran uang yang stabil dan meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik dengan stabilitasnya perekonomian.

Yang mempunyai uang berlebih (surplus) dan kekurangan (minus) akan mencari langkah yang efektif dalam mengatasi masalahnya masing-masing. Bagi mereka yang mempunyai uang berlebih maka mereka akan mengambil tindakan yang tepat guna menyimpan atau menginvestasikan uang mereka. Jika mereka akan menginvestasikan uang mereka maka ada beberapa lembaga keuangan yang bersedia menerima investasi tersebut. Lembaga keuangan yang ada antara lain berupa lemabaga keuangan non Bank maupun non Bank. Sementara bagi mereka yang kekurangan uang (minus), pilihan yang ditawarkanpun juga sama. Apakah mereka akan mengajukan kredit kepada lembaga keuangan non Bank atau Bank. Ini merupakan alternatif bagi masing-masing debitor dan kreditor dalam langkah pengambilan keputusan yang tepat.
Oleh karena itu, bagi yang memiliki banyak uang , orang-orang banyak yang menyimpan atau mendepositkan uangnya ke bank karena jauh lebih aman dan juga tergiur akan bunga yang bank berikan, mendepositkan ini juga dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Saving Deposit, yaitu penyimpanan uang dalam bentuk tabungan. Jadi dengan saving deposit ini, seseorang merasa aman dalam menyimpan uangnya dan merasakan keuntungan dengan bunga sekian persen yang bank berikan.

2. Demand Deposit, yaitu penyimpanan uang dalam bentuk giro. Giro adalah suatu istilah perbankan untuk suatu cara perbankan yang hampir merupakan kebalikan dari system cek. Suatu cek diberikan kepada pihak penerima pembayaran (payee) yang menyimpannya di bank mereka, sedangkan giro diberikan oleh pihak pembayar (payer) ke banknya, yang selanjutnya akan mentransfer dana kepada bank pihak penerima, langsung ke akun mereka.

3. Time Deposit, yaitu penyimpanan uang dalam bentuk deposito. Deposito itu sendiri yaitu sejenis jasa tabungan yang biasa ditawarkan oleh bank kepada masyarakat. Deposito biasanya memiliki jangka waktu tertentu di mana uang di dalamnya tidak boleh ditarik nasabah. Bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada bunga tabungan biasa

Pasar Modal
Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yangberedar.


ada 2 yang ditawakan pasar modal
Obligasi

Obligasi adalah kontrak keuangan. Penerbit obligasi, seperti perusahaan, akan membayar bunga kepada pembeli obigasi secara periodik. Kemudian, pada akhir waktu tertentu, penerbit obligasi membayar pokok obligasi yang biasa disebut nilai par.

OBLIGASI

1.     Merupakan bukti pengakuan utang

2.     Jangka waktu terbatas, hari jatuh tempo ditentukan

3.     Tingkat bunga dan periode pembayaran telah ditetapkan

4.     Baik perusahaan untung maupun rugi bunga dan pokok pinjaman wajib dibayar

5.     Bunga obligasi terlebih dahulu dikeluarkan sebagai biaya sebelum pajak diperhitungkan

6.     Harga obligasi relatif stabil namun sensitif terhadap tingkat bunga dan inflasi

7.     Pemegang obligasi tidak memiliki hak suara pada perusahaan

8.     Jika terjadi likuidasi (pembubaran perusahaan) pemegang obligasi memiliki klaim terlebih dahulu terhadap assets perusahaan.


karateristrik
1. Nilai obligasi (jumlah dana yang dipinjam)
2. Jangka waktu obligasi

3. Principal dan Coupon rate
4. Jadwal pembayaran
5. Diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah.


Saham

Saham dapat didefinisikan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut

Keuntungan Saham

Deviden

Dividen Yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan, deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.

Capital gain

Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual, dimana harga jual lebih tinggi dari harga beli, capital gain terbentuk dengan adanya aktifitas perdagangan di pasar sekunder. Misalnya seorang pemodal membeli saham BUMI dengan harga per lembar Rp.5000 kemudian menjualnya dengan harga Rp.5500 per lembarnya, yang berarti pemodal tersebut telah mendapatkan capital gain sebesar Rp.500 untuk setiap saham yang dijualnya. Umumnya pemodal dengan orientasi jangka pendek untuk mengejar keuntungan melalui capital gain.

Laba ditahan

Laba yang ditahan adalah laba yang dipergunakan untuk pentingan selanjutnya


PERSAMAAN SAHAM PREFEREN DAN OBLIGASI

1.     Ada  klaim atas laba dan aktiva sebelumnya

2.     Selama masa saham berlaku dividen akan tetap

3.     Memiliki hak tebus dan dapat di tukar dengan saham biasa

SAHAM

1.     Tanda bukti kepemilikan perusahaan

2.     Jangka waktu tidak terbatas

3.     Pemegang saham memperoleh penghasilan disebut dividen dengan frekuensi tidak menentu

4.     Dividen dibayar dari laba perusahaan, potensi laba perusahaan sulit ditaksir

5.     Dari sisi perpajakan, dividen merupakan bagian laba perusahaan setelah dikenai pajak

6.     Harga saham sangat fluktuatif dan sangat sensitif terhadap kondisi makro dan mikro

7.     Pemegang saham memiliki hak suara pada perusahaan (RUPS)

8.     Jika terjadi likuidasi (pembubaran perusahaan) maka pemegang saham memiliki klaim yang inferior (kebagian sisa-sisa hasil pembubaran).



Referensi :


http://nui-duniamahasiswa.blogspot.com/2012/03/bagan-financial-world-flow.html

    
Berbagai sumber

Kamis, 08 Maret 2012

Penalaran Induktif

NAMA     : DEDY FIRMANSYAH
KELAS     : 3EA14
NPM        :  13209510


TUGAS BAHASA INDONESIA

PENALARAN INDUKTIF

DEFINISI ,CONTOH PENALARAN,DAN CIRI CIRI PENALARAN INDUKTIF

Sebuah paragraf terbentuk dari satu gagagsan pokok (gagasan utama) dan beberapa gagasan penjelas.Gagasan utama dituangkan dalam kaliamat utama dan gagasan penjelas dituangkan dalam kaliamt kaliamat penjelas.kaliamat penjelas ini bertujuan menjelaskan dan menunjang kalimat utama.
Pola yang sering digunakan mengembangkan kalimat utama  paragraf Induktif
Pola pengembangan dari khusus ke umum (induktif),yaitu menempatkan gagasan yang bersifat khusus (penjelas) terlebih dahulu,kemudian diikuti gagasan bersifat umum.

PENALARAN INDUKTIF adalah paragraf yang menjeleskan peristiwa peristiwa khusus untuk menjelsakan peristiwa yang lebih umum atau bisa juga paragraf yang ide pokok pikiran utamanya berada di akhir paragraf

Contoh Penalaran Induktif

1. Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mencegah deman berdarah adalah menguras bak mandi minimal seminggu sekali (khusus).Langkah berikutnya adalah dengan menutup tempat tempat  yang digunakana untuk menampung air (khusus).adapun langkah ketiga adalah dengan mengubur barang barang bekas yang mungkin menjadi penampung air (khusus).Dengan melakukan ketiga hal tersebut secara benar,diharapkan kita mampu mencegah dan memberantas demam berdarah (umum).

2. Panas atau demam yang tinggi selama beberapa hari dapat dicurigai sebagai demam berdarah (khusus).Seseorang yang menderita demam berdarah juga mengalami pendarah dari lubang hidung atau mimisan (khusus).Selain itu,muncul bintik bintik merah pada tubuh (khusus).semua gejala tersebut hendaknya diperhatikan sehingga jika terdapat gejala gejala tersebut,penderita bisa segera ditolong dan ditangani dokter (umum)


3. Setelah diadakan peninjauan ke komplek Perumahan Permata Hijau Bekasi Utara, diketahui persentase penggunaan PAM di BLOCK A  tersebut sebanyak 90%. Rumah warga  yang telah menggunakan PAM di BLOCK B sebanyak 95%,BLOCK C sebanyak 100%, dan BLOCK D sebanyak 85%. Boleh dikatakan, di komplek perumahan permata hijau  92% rumah penduduk sudah menggunakan PAM .

Jenis Penalaran Induktif

Generalisasi      = Penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili

Analogi                                = Penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik kesimpulan

Klasifikasi

Perbandingan

Sebab akibat      = Paragraf yang dimulai dengan fakta khusus yang menjadi akibat, kemudian fakta itu dianalisis untuk diambil kesimpulan.

Ciri ciri Penalaran Induktif

1.  Menyebutkan peristiwa " khusus
2.  Menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa peristiwa khsus
3.  Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
4.  Menemukan kalimat uatama ,gagasan utama,kaliamat penjelas kalimat utama apragraf induktif terletak diakhir paragraf
5.  Gagasan utama terdapat pada kalimat utama
6.  Kalimat penjelas terletak sebelum kaliamt utama.yakni yang mengukapakan peristiwa periswa khusus
7.  Kaliamt penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagsan utama


Referensi

Buku Dunia Buku  Yudhistira

Kamis, 01 Maret 2012

PERKEMBANGAN PERBANKAN 1990-2010

NAMA       : DEDY FIRMANSYAH

KELAS      : 3EA 14

NPM          : 13209510

TUGAS PERKEMBANGAN PERBANKAN

KRISIS FINANSIAL  / MONTER 1997 - 1998

Berbagai kajian yang menelaah krisis keuangan Asia telah banyak dilakukan, dari berbagai sudut pandang pula. Secara umum terlihat suatu pola dan karakteristik yang berlaku sama di seluruh negara yang dilanda krisis. Namun, dalam hal kedalamannya dan jangka waktunya, Indonesia dapat dikatakan sangat unik. Sulit mencari pembandingnya, barangkali negara yang paling layak untuk dibandingkan waktu itu adalah Rusia, dan sekarang mungkin Argentina. Oleh karena itu, dalam uraian berikut kita akan mengkaji secara singkat mengapa krisis di Indonesia begitu parah, dan mengapa pemulihannya begitu lambat.

Sebagai introspeksi, harus kita akui bahwa krisis di Indonesia benar-benar tidak terduga datangnya, sama sekali tidak terprediksi sebelumnya. Seperti dikatakan oleh Furman dan Stiglitz (1998), bahwa di antara 34 negara bermasalah yang diambil sebagai percontoh (sample) penelitiannya, Indonesia adalah negara yang paling tidak diperkirakan akan terkena krisis bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya dalam percontoh, tersebut. Ketika Thailand mulai menunjukkan gejala krisis, orang umumnya percaya bahwa Indonesia tidak akan bernasib sama. Fundamental ekonomi Indonesia dipercaya cukup kuat untuk menahan kejut eksternal (external shock) akibat kejatuhan ekonomi Thailand.
Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 miliar dolar, dan sektor bank yang baik.

Tapi banyak perusahaan Indonesia yang meminjam dolar AS. Pada tahun berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut -- level efektifitas hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat.

Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 miliar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moody's menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi "junk bond".

Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus, krisis ini menguat pada November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul pada neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah, dan banyak yang bereaksi dengan membeli dolar, yaitu: menjual rupiah, menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi.

Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di negara ini. Pada Februari 1998, Presiden Suharto memecat Gubernur Bank Indonesia, tapi ini tidak cukup. Suharto dipaksa mundur pada pertengahan 1998 dan B.J. Habibi  menjadi presiden. mulai dari sini krisis moneter indonesia memuncak.

Berikut ini Penyebab Krisis Ekonomi Indonesia tahun 1997-1998 :

1.Yang pertama, stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi bagi “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri di bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut.

Pemerintah selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola hutang pemerintah (atau hutang publik lainnya), dan senantiasa menjaganya dalam batas-batas yang dapat tertangani (manageable). Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Hal ini mirip dengan yang terjadi di negara-negara lain di Asia yang dilanda krisis. Dalam banyak hal, boleh dikatakan bahwa negara telah menjadi korban dari keberhasilannya sendiri. Mengapa demikian? Karena kreditur asing tentu bersemangat meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdaganganterbuka.


Daya tarik dari “dynamic economies’” ini telah menyebabkan net capital inflows atau arus modal masuk (yang meliputi hutang jangka panjang, penanaman modal asing, dan equity purchases) ke wilayah Asia Pasifik meningkat dari US$25 milyar pada tahun 1990 menjadi lebih dari US$110 milyar pada tahun 1996 (Greenspan 1997). Sayangnya, banyaknya modal yang masuk tersebut tidak cukup dimanfaatkan untuk sektor-sektor yang produktif, seperti pertanian atau industri, tetapi justru masuk ke pembiayaan konsumsi, pasar modal, dan khusus bagi Indonesia dan Thailand, ke sektor perumahan (real estate). Di sektor-sektor ini memang terjadi ledakan (boom) karena sebagian dipengaruhi oleh arus modal masuk tadi, tetapi sebaliknya kinerja ekspor yang selama ini menjadi andalan ekonomi
nasional justru mengalami perlambatan, akibat apresiasi nilai tukar yang terjadi, antara lain, karena derasnya arus modal yang masuk itu.

Selain itu, hutang swasta tersebut banyak yang tidak dilandasi oleh kelayakan ekonomi, tetapi lebih mengandalkan koneksi politik, dan seakan didukung oleh persepsi bahwa negara akan ikut menanggung biaya apabila kelak terjadi kegagalan. Lembaga keuangan membuat pinjaman atas dasar perhitungan aset yang telah “digelembungkan” yang pada gilirannya mendorong lagi terjadinya apresiasi lebih lanjut (Kelly and Olds 1999). Ini adalah akibat dari sistem yang sering disebut sebagai “crony capitalism”. Moral hazard dan penggelembungan aset tersebut, seperti dijelaskan oleh Krugman (1998), adalah suatu strategi “kalau untung aku yang ambil, kalau rugi bukan aku yang tanggung (heads I win tails somebody else loses)”. Di tengah pusaran (virtous circle) yang semakin hari makin membesar ini, lembaga keuangan meminjam US dollar, tetapi menyalurkan pinjamannya dalam kurs lokal (Radelet and Sachs 1998). Yang ikut memperburuk keadaan adalah batas waktu pinjaman (maturity) hutang swasta tersebut rata-rata makin pendek. Pada saat krisis terjadi, rata-rata batas waktu pinjaman sektor swasta adalah 18 bulan, dan menjelang Desember 1997 jumlah hutang yang harus dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun adalah sebesar US$20,7 milyar (World Bank 1998).

2.Yang kedua, dan terkait erat dengan masalah di atas, adalah banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri.

Ketika liberalisasi sistem perbankan diberlakukan pada pertengahan tahun 1980-an, mekanisme pengendalian dan pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak mampu mengikuti cepatnya pertumbuhan sektor perbankan. Yang lebih parah, hampir tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran kriteria layak kredit. Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank yang sesunguhnya tidak bermodal cukup (undercapitalized) atau kekurangan modal, tetapi tetap dibiarkan beroperasi. Semua ini berarti, ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai “peredam kerusakan”, tetapi justru menjadi korban langsung akibat neracanya yang tidak sehat.

3.Yang ketiga, sejalan dengan makin tidak jelasnya arah perubahan politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi persoalan ekonomi pula.

Hill (1999) menulis bahwa banyaknya pihak yang memiliki vested interest dengan intrik-intrik politiknya yang menyebar ke mana-mana telah menghambat atau menghalangi gerak pemerintah, untuk mengambil tindakan tegas di tengah krisis. Jauh sebelum krisis terjadi, investor asing dan pelaku bisnis yang bergerak di Indonesia selalu mengeluhkan kurangnya transparansi, dan lemahnya perlindungan maupun kepastian hukum. Persoalan ini sering dikaitkan dengan tingginya “biaya siluman” yang harus dikeluarkan bila orang melakukan kegiatan bisnis di sini. Anehnya, selama Indonesia menikmati economic boom persepsi negatif tersebut tidak terlalu menghambat ekonomi
Indonesia. Akan tetapi begitu krisis menghantam, maka segala kelemahan itu muncul menjadi penghalang bagi pemerintah untuk mampu mengendalikan krisis. Masalah ini pulalah yang mengurangi kemampuan kelembagaan pemerintah untuk bertindak cepat, adil, dan efektif. Akhirnya semua itu berkembang menjadi “krisis kepercayaan” yang ternyata menjadi penyebab paling utama dari segala masalah ekonomi yang dihadapi pada waktu itu. Akibat krisis kepercayaan itu, modal yang dibawa lari ke luar tidak kunjung kembali, apalagi modal baru.

4.Yang keempat, perkembangan situasi politik telah makin menghangat akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri.

Faktor ini merupakan hal yang paling sulit diatasi. Kegagalan dalam mengembalikan stabilitas sosial-politik
telah mempersulit kinerja ekonomi dalam mencapai momentum pemulihan secara mantap dan berkesinambungan.


Meskipun persoalan perbankan dan hutang swasta menjadi penyebab dari krisis ekonomi, namun, kedua faktor yang disebut terakhir di atas adalah penyebab lambatnya pemulihan krisis di Indonesia. Pemulihan ekonomi musykil, bahkan tidak mungkin dicapai, tanpa pulihnya kepercayaan pasar, dan kepercayaan pasar tidak mungkin pulih tanpa stabilitas politik dan adanya permerintahan yang terpercaya (credible).

Penyebab utama krisis ekonomi ( menambahkan saja dari uraian sebelumnya ) :
1. Krisis politik, mosi tidak percaya rakyat terhadap pemerintah, khusus nya presiden yang telah lima periode menjabat presiden.
2. Banyaknya kasus KKN berakibat dana pembangunan tidak maksimal pemanfaatannya ( di korupsi atau mark up )
3. Bantuan modal luar negeri ( hutang /loan ) pemanfaatannya kurang maksimal, tidak semua untuk produksi, banyak yang dipergunakan untuk subsidi dan konsumsi , sehingga beban utang negara semakin lama makin berat.
4. Adanya jatuh tempo pembayaran utang luar negeri perlu valas dlm jumah besar )
5. Krisis politik, demonstrasi yang anarkhis, mengakibatkan rasa tidak aman bagi para investor, sehingga investor melarikan modalnya keluar negeri ( valas kursnya melejit naik 100 %, dari 5 ribu rp menjadi 10 ribu lebih )
6. Pergantian kepemimpinan yang inkonstitusional dapat berdampak krisis pada bidang ekonomi
7. Iklim ekonomi yang tidak sehat berakibat Perbankan goyah, utamanya yang bermain valas , terjadi rush ( penarikan dana nasabah secara besar-besaran ) nasabah tidak percaya pada perbankan ( dampak sistemik dari policy dan manajemen kepemimpinan saat itu )
semoga membantu


intinya, sebab awal mulanya adalah george soros yang memainkan saham di thailand dan memainkan kurs baht nya yang memacu efek domino ke negara lain di asia tenggara (efek kerjasama regional Asia Tenggara),

Yaitu Filipina, Malaysia, korea selatan, hongkong, dan paling parah Indonesia karena ditambah dengan hutang luar negeri yang menumpuk sementara cadangan devisa minimum. Akibatnya IHSG anjlok, dan merembet pada berbagai sektor.

FAKTOR FAKTOR LAIN

1. Faktor utama yang menyebabkan krisis moneter tahun 1998 yaitu faktor politik. Pada tahun 1998 krisis ekonomi bercampur kepanikan politik luar biasa saat rezim Soeharto hendak tumbang. Begitu sulitnya merobohkan bangunan rezim Soeharto sehingga harus disertai pengorbanan besar berupa kekacauan (chaos) yang mengakibatkan pemilik modal dan investor kabur dari Indonesia. Pelarian modal besar-besaran (flight for safety) karena kepanikan politik ini praktis lebih dahsyat daripada pelarian modal yang dipicu oleh pertimbangan ekonomi semata (flight for quality). Karena itu, rupiah merosot amat drastis dari level semula Rp 2.300 per dollar AS (pertengahan 1997) menjadi level terburuk Rp17.000 per dollar AS (Januari 1998).

2. Banyaknya utang dalam valas, proyek jangka panjang yang dibiayai dengan utang jangka pendek, proyek berpenghasilan rupiah dibiayai valas, pengambilan kredit perbankan yang jauh melebihi nilai proyeknya, APBN defisit yang tidak efisien dan efektif, devisa hasil ekspor yang disimpan di luar negeri, perbankan yang kurang sehat, jumlah orang miskin dan pengangguran yang relative masih besar, dan seterusnya.

3. Krisis moneter dimulai dari gejala/kejutan keuangan pada juli 1997, menurunnya nilai tukar rupiah secara tajam terhadap valas, diukur dengan dolar Amerika Serikat yang merupakan pencetus/trigger point. Meskipun tidak ada depresiasi tajam baht(mata uang Thailan), Krismon tetap akan terjadi di Negara tercinta ini. Kenapa? karena gejolak sosial dan politik Indonesia yang memanas. Oleh karena itu penyebab krismon 98 bisa dikatakan campuran dari unsur-unsur eksternal dan domestik(J. Soedrajad Djiwandono).

4. Diabaikannya early warning system merupakan penyebab mengapa krismon 97 melanda Inonesia. Adapun early system warningnya adalah: meningkatnya secara tajam deficit transaksi berjalan sehingga pada saat terjadinya krisis, defisit transaksi berjalan Inonesia sebesar 32.5% dari PDB. Utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta yang tinggi. Boomingnya sektor properti dan financial yang mengabaikan kebijakan kehati-hatian dalam pemberian kredit perbankan diperuntukan untuk membiayai proyek-proyek besar yang disponsori pemerintah dan tidak semua proyek besar itu visibel. Tata kelola yang buruk(bad governence) dan tingkat transpalasi yang rendah baik sektor publik maupun swasta(Marie Muhamad).

5. Argument bahwa pasar financial internasional tidak stabil secara inheren yang kemudian mengakibatkan buble ekonomi dan cenderung bergerak liar. Bahkan sejak tahun 1990-an pasar financial lebih tidak stabil lagi. Hal ini dikarenakan tindakan perbankan negara-negara maju menurunkan suku bunga mereka. Sehingga mendorong dana-dana masuk pasar global. Maka pada tahun 1990-an dana asing melonjak dari $9 Miliar menjadi lebih dari $240 Miliar.

6. Kegagalan manajemen makro ekonomi tercermin dari kombinasi nilai tukar yang kaku dan kebijakan fiskal yang longgar, inflasi yang merupakan hasil dari apresiasi nilai tukar efectif riil, deficit neraca pembayaran dan pelarian modal.

7. Kelemahan sector financial yang over gradueted, but under regulete dan masalah moral hazar.

8. Semakin membesarnya cronycapitalism dan sistem politik yang otoriter dan sentralistik(M. Fadhil Hasan). Jika diartikan secara ekonomis teknis, krisis bisa disebut sebagai titik balik pertumbuhan ekonomi yang menjadi merosot. Dan penyebabnya jika ditinjau dari teori konjungtur, ada dua karakteristik krisis 1). krisis disebabkan tidak sepadannya kenaikan konsumsi ketimbang kenaikan kapasitas produksi atau underconsumption crisis. 2). Krisis disebabkan terlampau besarnya investasi yang dipicu modal asing karena tabungan nasional sudah lebih dari habis untuk berinvestasi. Krisis seperti ini disebut overinvestment, dan ini yang terjadi di Indonesia(Kwik Kian Gie). Begitulah beberapa penyebab krismon 98 di Indonesia, yang dampaknya masih terasa sampai sekarang.

KESIMPULAN

“krisis kepercayaan dan politik” yang ternyata menjadi penyebab paling utama dari segala masalah ekonomi yang dihadapi pada waktu itu. Akibat krisis kepercayaan itu, modal yang dibawa lari ke luar tidak kunjung kembali, apalagi modal baru.

SEMOGA KEDEPANNYA  INDONESIA TIDAK MENGALAMI KRISIS EKONOMI LAGI.AMIN

REFERENSI

1.WIKIPEDIA


2.http://ade-artikel.blogspot.com

3.http://putracenter.net

4 Berbagai Sumber

TERIMA KASIH